Founder-led communication adalah pendekatan komunikasi yang menempatkan pendiri atau CEO sebagai salah satu suara utama perusahaan. Dalam industri kecerdasan buatan (AI), pendekatan ini terlihat ketika publik mengenal perusahaan melalui visi, pernyataan, dan karakter pemimpinnya. Akibatnya, cara seorang CEO berbicara dapat memengaruhi cara publik menilai organisasi yang dipimpinnya.
Kasus OpenAI pada November 2023 memperlihatkan hubungan tersebut. Dewan OpenAI memberhentikan Sam Altman dengan alasan komunikasi yang dinilai tidak konsisten dan menghambat tanggung jawab dewan. Peristiwa itu menjadi perhatian luas, menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan dapat berkembang menjadi isu reputasi perusahaan.
Peran CEO dalam Membentuk Persepsi dan Kepercayaan Publik
CEO bukan hanya pengambil keputusan bisnis, tetapi juga figur yang menjelaskan arah perusahaan kepada publik. Pernyataan mereka membantu pelanggan, investor, karyawan, dan mitra memahami tujuan organisasi. Ketika pemimpin mampu menjelaskan persoalan rumit secara jelas, perusahaan memiliki kesempatan membangun kepercayaan.
Dalam industri AI, peran ini semakin terlihat karena perkembangan teknologi memunculkan pertanyaan tentang keamanan, privasi, dan dampak sosial. Publik tidak hanya ingin mengetahui kemampuan produk, tetapi juga memahami nilai dan tanggung jawab perusahaan di baliknya. Sosok pemimpin sering menjadi pintu masuk untuk memahami isu tersebut.
Namun, perhatian yang besar terhadap CEO juga memiliki konsekuensi. Ketika publik terlalu mengidentikkan perusahaan dengan satu figur, penilaian terhadap organisasi dapat ikut berubah akibat pernyataan atau tindakan pribadi pemimpin. Langkah menjaga reputasi perusahaan akhirnya berisiko mengikuti naik turunnya citra individu.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya membedakan reputasi personal CEO dari reputasi perusahaan secara keseluruhan. Keduanya memang saling berhubungan, tetapi tidak sepenuhnya sama. Perusahaan tetap perlu membuktikan kualitas layanan, integritas keputusan, dan tanggung jawabnya melalui tindakan nyata.
Founder-Led Communication Membawa Peluang sekaligus Risiko
Komunikasi yang dipimpin founder dapat membuat perusahaan terasa lebih dekat dengan publik. Cerita tentang alasan perusahaan berdiri, visi jangka panjang, dan tantangan yang dihadapi dapat disampaikan melalui pengalaman langsung pemimpinnya. Pendekatan ini membantu organisasi menjelaskan identitasnya tanpa selalu terdengar sebagai pernyataan resmi yang kaku.
Meskipun demikian, kedekatan tersebut perlu disertai batas yang jelas. Pernyataan spontan seorang CEO mengenai isu sensitif dapat memicu salah tafsir, mengundang kritik, atau menimbulkan pertanyaan tentang sikap resmi perusahaan. Risiko meningkat ketika pernyataan pemimpin tidak selaras dengan kebijakan, keputusan bisnis, atau pengalaman pemangku kepentingan.
Dalam sebuah penelitian dengan 120 responden di sektor manufaktur Indonesia menunjukkan bahwa strategi komunikasi krisis berpengaruh positif dan signifikan terhadap reputasi perusahaan. Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi yang terencana, kredibel, dan sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan.
Artinya, komunikasi CEO tidak cukup hanya menarik perhatian atau membangun kedekatan emosional. Pesan yang disampaikan harus didukung fakta, konsisten dengan sikap perusahaan, dan diikuti tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketika muncul persoalan, publik perlu melihat bagaimana perusahaan menyelesaikannya, bukan sekadar bagaimana pemimpinnya menjelaskan situasi.
Tips: Bangun Suara Institusi agar Reputasi Tidak Bergantung pada Satu Figur
Perusahaan perlu membangun suara institusi atau institutional voice, yaitu identitas komunikasi yang mencerminkan sikap, nilai, dan tanggung jawab organisasi secara konsisten. Untuk mencapai hal tersebut, peran strategi komunikasi profesional dari public relation agency sangat penting dalam menyusun narasi publik yang berimbang.
Dengan pendekatan ini, CEO tetap dapat menjadi figur utama tanpa menjadi satu-satunya sumber informasi yang dipercaya publik. Organisasi juga memiliki ruang untuk menunjukkan kompetensi melalui direksi, pakar, atau tim yang relevan.
Konsistensi pesan, empati, dan keterlibatan pemangku kepentingan merupakan aspek penting dalam menjaga reputasi perusahaan saat menghadapi krisis. Oleh sebab itu, komunikasi institusi tidak cukup hanya menjelaskan posisi perusahaan, tetapi juga perlu menunjukkan pemahaman terhadap kekhawatiran pihak yang terdampak.
Suara institusi yang kuat bukan berarti menghilangkan karakter CEO. Sebaliknya, organisasi perlu memastikan bahwa visi pemimpin diterjemahkan menjadi kebijakan, perilaku, dan keputusan yang dapat dirasakan oleh publik. Dengan begitu, stabilitas reputasi perusahaan tidak hanya bergantung pada popularitas seseorang.
Penutup
CEO dapat menjadi wajah yang memperkenalkan perusahaan kepada publik, tetapi reputasi perusahaan jangka panjang dibangun oleh perilaku organisasi secara keseluruhan. Komunikasi pemimpin akan lebih bermakna ketika selaras dengan keputusan bisnis, nilai perusahaan, dan tanggung jawab terhadap pemangku kepentingan.
Bagi perusahaan, tantangannya bukan memilih antara figur pemimpin atau suara institusi. Keduanya perlu berjalan beriringan agar komunikasi tetap personal, akuntabel, dan konsisten.
Temukan berbagai insight seputar strategi komunikasi, reputasi perusahaan, dan strategic advisory melalui artikel lainnya di website SIP Communication.
Referensi:
- Vito Atmo. (2026). Founder-Led Communication. Vitoatmo.com. https://vitoatmo.com/glosarium/founder-led-marketing
- Antara News. (2023). OpenAI ChatGPT pecat bosnya Sam Altman. https://www.antaranews.com/berita/3829530/openai-chatgpt-pecat-bosnya-sam-altman
- Zebua, S. (2025). Analisis Moderasi Gaya Komunikasi terhadap Hubungan Strategi Komunikasi Krisis, Kecepatan Respon, dan Kanal Komunikasi terhadap Reputasi Korporat. eCo-Buss, 7(3), 2257-2268. https://jurnal.kdi.or.id/index.php/eb/article/view/2570
- Syaputra, P. A., dkk. (2026). Peran Public Relations Sebagai Fasilitator Komunikasi Dalam Mengelola Krisis Reputasi (Studi Kasus PT. Garuda Indonesia). CITACONOMIA: Economic and Business Studies, 5(2), 335–349. https://e-journal.citakonsultindo.or.id/index.php/CITACONOMIA/article/view/3542
- Wardani, S. S. (2026). Komunikasi Dan Budaya Korporat. Tujuh Pustaka Penerbit.





